Pola Hidup Tak Sehat Bebani Pengeluaran BPJS Kesehatan

Ilustrasi BPJS Kesehatan. - Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
14 November 2018 12:25 WIB Sunartono, Abdul Hamid Razak, & Herlambang Jati Kusumo News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan gaya hidup sangat penting karena penyakit degeneratif yang tidak menular justru paling banyak menguras banyak dana BPJS Kesehatan di DIY.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Pembayun Setyaningastutie mengatakan penyakit jantung dan kanker berada di daftar teratas 10 penyakit yang paling membebani BPJS Kesehatan pada September 2018. Dalam satu bulan, uang yang digelontorkan BPJS Kesehatan untuk merawat penderita dua penyakit tersebut mencapai Rp159,26 miliar. Jumlah kasus penyakit jantung dan kanker mencapai 439.757.

Dialisis atau cuci darah untuk penderita gagal ginjal juga memakan porsi besar dalam pembiayaan BPJS Kesehatan. Selama Sseptember lalu, terdapat 131.295 cuci darah yang yang memerlukan biaya Rp111,55 miliar.

Data tersebut, kata Pembayun, diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP).

“Data itu berasal dari seluruh rumah sakit di DIY. Rata-rata setiap bulan tak jauh dari itu. Kadang ada perbedaan dengan data yang dimiliki BPJS tetapi secara umum sama,” kata dia kepada Harian Jogja, Jumat (9/11/2018).

Secara rutin BPJS Kesehatan telah memberikan laporan kepada Pemda DIY mengenai masyarakat yang menggunakan layanan asuransi ini. Ia mengakui BPJS Kesehatan dan rumah sakit harus berkoordinasi lebih banyak lagi, terutama dalam verifikasi pembayaran. Namun, Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) atau sistem besaran klaim pembayaran oleh BPJS Kesehatan terhadap fasilitas kesehatan rujukan diharapkan bisa menjadi solusi.

“Dengan sistem ini, BPJS tidak dirugikan dan rumah sakit juga tidak dirugikan,” katanya.

Pembayun mengatakan penyakit yang banyak menguras pembiayaan BPJS tidak mengenal usia, kelas ekonomi, maupun latar belakang lingkungan. Dinkes DIY memiliki banyak program untuk mendorong masyarakat mengubah gaya hidup mereka agar terbebas dari penyakit degeneratif.

“Melalui puskesmas, kami dorong agar masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat,” kata dia.

Kepala Dinkes Jogja Fita Yulia Kisworini mengatakan dari sepuluh besar penyebab kematian di Kota Jogja, enam adalah penyakit degeneratif. “Penyakit seperti jantung, strok serta diabetes menduduki posisi tinggi. Penyakit ini tidak menular tetapi dapat diantisipasi sejak dini,” kata dia.

Selama 2017 lalu, Dinkes mencatat jumlah kematian akibat penyakit degeneratif cukup tinggi. Diabetes melitus (DM) menempati posisi tertinggi sebanyak 152 kasus. Disusul hipertensi (105), gagal jantung (52 kasus), strok (48 kasus) dan serangan jantung (27). Tahun ini, penyakit DM masih nangkring di posisi tertinggi (61 kasus), disusul stroke (33 kasus).

Menurut dia, penyebab utama penyakit degeneratif adalah pola hidup yang tidak sehat seperti merokok, terlalu banyak makan berlkemak maupun yang berkadar gula tinggi, dan kurang berolahraga.

Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja terus mengampanyekan gerakan masyarakat hidup sehat atau germas. Kota Jogja juga memiliki Perda No.2/2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok serta beberapa peraturan wali kota (perwal) seperti Perwal tentang Pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (posbindu).

Posbindu dibentuk untuk mendorong masyarakat agar rutin memeriksakan kondisi kesehatannya. “Kami juga mendorong warga untuk berhenti merokok, menata pola makan, istirahat teratur, dan mengonsumsi banyak sayur dan buah-buahan,” katanya.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinkes Bantul Fauzan mengatakan beberapa langkah pencegahan deteksi dini dan penyuluhan. “Deteksi dini meliputi pemeriksaan tensi, cek kandungan gula dalam darah, cek kolesterol, dan cek berat badan. Penyuluhan meliputi kampanye hidup sehat mulai dari kebersihan sampai gaya hidup,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa deteksi dini sudah dilakukan posbindu di tiap-tiap puskemas yang ada di Bantul.

Gaya Hidup

Sekretaris Dinkes Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka mengungkapkan penyakit tidak menular saat ini banyak diderita oleh masyarakat karena pola hidup masyarakat yang tidak sehat.

“Penyakit itu tergantung perilaku, jika kita dapat menjalankan pola hidup sehat, penyakit yang membebani BPJS Kesehatan bisa ditekan,” ujar Priyanta.

Saat ini Dinkes Gunungkidul terus mengampanyekan gerakan hidup sehat melalui konsumsi buah dan sayur setiap hari, aktivitas fisik 30 menit setiap hari, cek kesehatan rutin dan berkala, tidak merokok, menjaga lingkungan sehat.

“Itu perilaku yang harus bisa dan dibiasakan semua elemen masyarakat sehingga dengan itu, bisa mengurangi kolesterol tinggi, mengurangi kegemukan, bisa mendeteksi penyakit secara dini,” katanya.

Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, mengatakan banyaknya penderita penyakit jantung di Indonesia mesti ditelusuri penyebabnya.

“Jantung adalah penyakit terbanyak. Angka Riskesdas [Riset Kesehatan Dasar] 1,5 persen, artinya 15 dari 1.000 penduduk menderita penyakit jantung. Kenapa orang Indonesia banyak yang menderita penyakit jantung,” kata dia di Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Nila menuturkan kampanye gaya hidup sehat terbentur sikap masyakat yang kurang menyadari pentingnya hidup sehat. Mengubah perilaku masyarakat membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Nila mengatakan penyakit jantung, kanker, stroke, gagal ginjal telah menghabiskan 30% anggaran BPJS Kesehatan tahun lalu. Klaim untuk penyakit jantung di BPJS pada 2017 bahkan mencapai Penyakut yang paling banyak menelan anggaran BPJS adalah jantung, sampai Rp9,7 triliun. pada 2017.

Adapun Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat menjaga pola makan. Seharusnya, kata dia, anak-anak diajarkan untuk makan sehat, bukan makan enak.

“Pola makan kita ini enak-enak semuanya. [Selama ini] Kita ajari anak-anak makan enak, bukan makan sehat," tegasnya.