Dua Korea Sepakat Lucuti Senjata dan Tarik Pasukan dari Zona Demiliterisasi Panmunjom

Militer Korsel berjaga di desa perbatasan Panmunjom yang memisahkan dua Korea. - The Guardian/AP
23 Oktober 2018 19:02 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Demiliterisasi di desa perbatasan Korut dan Korsel, Panmunjom, segera direalisasikan setelah pertemuan kedua negara yang difasilitasi oleh PBB.

Kedua Korea dan penengah dari PBB yang dipimpin AS, telah bersepakat untuk melucuti persenjataan di desa perbatasan  dari kedua belah pihak secara bertahap. Langkah ini merupakan sinyal bahwa perdamaian bakal muncul di dua negeri bersaudara di Semenanjung Korea itu.

Kementerian Pertahanan Korut dalam sebuah pernyataan, menjelaskan perbincangan trilatetal pada Senin, telah menyepakati penarikan pasukan dan pelucutan senjata dari pos-pos di Joint Security Area (JSA), atau lebih dikenal dengan desa perbatasan Panmunjom.

Masing-masing pihak akan menuangkan tiga langkah verifikasi dalam dua hari ke depan, tulis pernyataan itu.

Langkah yang sangat simbolis ini sangat penting di tengah kegagalan pembicaraan nuklir  yang dikeluhkan AS selama ini.  Persetujuan dari Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) yang dipimpin AS sangat penting untuk menjawab kesangsian AS tentang langkah perbaikan hubungan antar-Korea. Kesepakatan ini juga akan berpengaruh terhadap blokade pengiriman barang melintasi perbatasan Korsel.

JSA adalah satu-satunya garis sepanjang 250 km yang memisahkan kedua Korea, di mana kedua pasukan militer masing-masing negara saling berhadap-hadapan setiap harinya.

Daerah ini punya kisah dramatis ketika Pasukan Korsel melakukan operasi heroik menolong seorang tentara Korut yang membelot dan ditembak oleh kesatuannya sendiri.

Garis batas itu menjadi zona netral yang disepakati sampai "insiden pembunuhan kapak" pada 1976, ketika tentara Korea Utara menyerang sekelompok pekerja yang mencoba menebang pohon di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ), menewaskan dua perwira tentara AS.

Korsel dan Korut yang secara teknis berperang, bersepakat mengurangi ketegangan militer di perbatasan mereka pada pertemuan antara Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un, di Pyongyang pada September lalu.

Bulan ini, kedua belah pihak mulai menghapus ranjau darat di JSA - yang sekarang sering digunakan untuk pembicaraan antara kedua Korea - sebagai bagian dari kesepakatan. Pertemuan pada Senin (22/10/2018) sekaligus untuk mengonfirmasi operasi itu telah dijalankan. Operasi yang berlangsung selama 20 hari itu hanya memindahkan sebagian kecil dari ranjau darat yang dipasang di zona demiliterisasi (DMZ).

Pertemuan tingkat tinggi pada September merupakan pertemuan ketiga kedua pemimpin Korea, sebagai pendekatan baru penyelesaian konflik di semenanjung Korea.

Moon telah menjalani keterlibatan lebih jauh dengan Korut yang terisolasi untuk mendorongnya menuju denuklirisasi.

Pembicaraan Senin adalah pertemuan trilateral yang terdiri atas dua Korea dan Komando PBB, yang mempertahankan yurisdiksi atas setengah bagian selatan JSA.

Pejabat perwakilan AS di PBB yang memimpin pertemuan trilateral, Jenderal AS Vincent Brooks, mengatakan kepada wartawan pada Agustus lalu, sebagai komandan PBB ia mendukung inisiatif yang dapat mengurangi ketegangan militer di Semenanjung Korea.

Namun sebagai komandan gabungan pasukan AS-Korea Selatan - salah satu perannya yang lain - ia merasa ada risiko yang wajar  dalam rencana Seoul membongkar pos-pos pengawal di dekat zona demiliterisasi.

Sumber : The Guardian