Soal Ilmu Pengetahuan, Ini Pesan Ma'ruf Amin kepada Para Santri

KH Maruf Amin saat turun dari kendaraan diterima oleh KH Khairul Fuad yang juga menantu KH Atabik Ali Maksum dalam kunjungan di Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, Minggu (14/10/2018). - Harian Jogja/Sunartono
20 Oktober 2018 10:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin, mengingatkan para santri agar tidak hanya mempelajari Alquran dan kitab kuning, juga harus mempelajari ilmu pengetahuan umum sehingga bisa memberi solusi persoalan bangsa.

KH Ma'ruf Amin mengatakan hal itu saat menyampaikan sambutan pada peringatan Hari Santri Nasional ke-2 di Pondok Pesantren Hidayatulloh Al Muhajirin, Arosbaya, Bangkalan, Madura, seperti dikutip melalui siaran persnya, Jumat (19/10/2018).

Peringatan Hari Santri Nasional ke-2 tersebut juga dihadiri para kiai dan ulama se-Madura serta Bupati Bangkalan dan jajaran unsur pimpinan daerah.

Menurut Kiai Ma'ruf, pondok pesantren sejak zaman dahulu adalah lembaga pendidikan yang berperan menyiapkan generasi berikutnya untuk membangun bangsa dan negara.

Karena itu, kata dia, para santri selain belajar agama juga wajib mendalami ilmu pengetahuan umum.

"Dengan bekal pengetahuan umum, para santri dapat memilah dan memilih mana informasi yang benar serta informasi yang diplesetkan. Para santri harus menegakkan kebenaran dan melawan kebohongan," katanya.

Ma'ruf lebih lanjut menjelaskan, para santri agar jangan hanya mempelajari huruf-huruf Allah, tapi juga harus dapat membaca situasi dan kondisi lingkungan, persoalan yang berkembang di masyarakat, serta solusi untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

"Para santri juga perlu memiliki ilmu ekonomi dan kebudayaan," katanya.

Dengan memiliki ilmu pengetahuan umum, baik ketatanegaraan, ekonomi, maupun kebudayaan, maka para santri ke depan diharapkan dapat memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat saat ini.

"Harus diakui, para santri saat ini menghadapi tantangan lebih berat, karena selain mempelajari ilmu agama, juga harus mempelajari ilmu pengetahuan umum. Untuk menyikapi era digitial, maka harus menguasai ilmu digital," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Ma'ruf juga mengingatkan peran sentral santri yakni turut berkontribusi melawan penjajah Belanda.

Menurut dia, KH Hasyim Ashari, memimpin perjuangan para santri melawan penjajah Belanda.

"Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober, diwujudkan dengan perang melawan penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya," katanya.

Sumber : Antara