FEATURE: Panti Asuhan Gotong Royong Ajarkan Rasa Hormat kepada Anak-Anak Terbuang

Ilustrasi anak-anak - Reuters
24 September 2018 05:25 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Menjadi pengasuh dan pengurus panti asuhan adalah pekerjaan yang membutuhkan pengabdian yang besar. Mereka kudu menghadapi berbagai perjalanan mempertemukan anak dan orang tuanya. Ini dialami pengasuh Panti Asuhan Gotong Royong Bantul. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Seorang wanita yang belum genap berusia 20 tahun menjejakkan kakinya di pelataran Panti Asuhan Gotong Royong. Ujung rambutnya kering menampakkan warna kemerahan karena sering terpapar sinar Matahari. Kulitnya kusam. Di lengannya seorang bayi mungil tertidur pulas.

Hartiasih yang telah belasan tahun menjadi pengasuh panti menghambur keluar panti untuk mempersilakan wanita itu masuk. Dia sudah mendengar kabar dari Dinas Sosial Sleman tentang kemalangan yang menimpa wanita itu.

Mawar, nama samaran wanita itu. Sehari-hari Mawar berkelana di Kota Jogja sebagai anak jalanan. Dia singgah dari satu ruas jalan ke ruas jalan lainnya, menyumbangkan suara pas-pasannya untuk mencari sesuap nasi. Bahkan ketika usia kandungannya semakin tua, Mawar masih mengelilingi Kota Jogja.

Hingga pada suatu malam dia merasakan kontraksi yang sangat menyakitkan dan hanya bisa merintih kesakitan di dekat Tugu Jogja. Seseorang mengantar Mawar ke rumah sakit di Sleman untuk melahirkan. Setelah mendengar laporan dari warga, Dinas Sosial Sleman langsung mengajak Panti Asuhan Gotong Royong turut mengatasi masalah Mawar.

“Saya sudah di sini sejak panti ini berdiri jadi pengasuh, tapi saya paling ingat dengan Mawar. Waktu itu dia hampir saja melahirkan di Tugu Jogja. Untung saja ada yang menolongnya, membawa dia ke rumah sakit,” kata Hartiasih sambil sesekali membenahi letak kursi plastik yang didudukinya di ruang pengasuh.

Kejadian itu membuat Mawar menutup diri dari pengasuh. Mawar banyak menundukkan kepala dan menyembunyikan informasi. Hartiasih dan pengurus yang lain mencoba mendekati Mawar. Dalam obrolan santai di ruang tamu panti, sedikit demi sedikit mereka bertanya tentang asal usul Mawar, orang tuanya, dan ayah biologis dari bayinya. Mawar akhirnya menjawab semua pertanyaan dengan lugas, tetapi hasilnya cukup buram.

“Mawar ternyata sudah melarikan diri dari rumah orang tuanya di Magelang sejak SMP dan enggak pernah lagi ngontak keluarganya. Nah, ayah biologis dari bayinya pokoknya dari Klaten gitu,” kata Hartiasih.

Perjalanan mencari keluarga dan ayah biologis anak Mawar pun dimulai. Pengasuh panti pergi berombongan ke Magelang bersama pekerja sosial. Mereka pulang membawa fakta bahwa orang tua Mawar ternyata pindah ke Sleman. Sebagian pengasuh juga ikut berkeliling Klaten menemui keluarga dari ayah biologis bayi Mawar. Rombongan yang menuju ke Klaten sempat berdebat dengan keluarga si ayah. Bayi Mawar sempat ditolak oleh keluarga mereka karena dianggap sebagai beban finansial dan aib.

“Akhirnya simbah buyutnya bilang ke simbahnya, dibujuk, akhirnya mau tanggung jawab, nanti laki-lakinya suruh menikahi. Tetapi itu tidak langsung menikah. Ternyata ayah si bayi sedang di penjara karena kasus pencurian jaring ikan, dipenjara sama kakek si bayi juga. Jadi ya nunggu dulu,” kata Hartiasih.

Perasaan Hartiasih ngilu. Ternyata Mawar tidak memiliki kartu tanda penduduk dan kartu keluarga untuk menikah. Pada suatu pagi, tepat saat azan Subuh selesai berkumandang, dengan mengendarai motor matic kecilnya Hartiasih mengantar Mawar ke Magelang, hilir mudik dari kantor Disdukcapil ke beberapa warung fotokopi untuk mengurus KTP dan kartu keluarga.

Haru membuncah di hati Hartiasih. Perjalanannya hingga petang terbayar. Dia tiba di suatu pagi ketika wajah Mawar dirias ala pengantin, terlihat cantik dengan kebaya putih dan jarit cokelat, siap berangkat bersama seluruh pengurus dan pengasuh ke sebuah kontrakan kecil di Magelang untuk melangsungkan pernikahan.

“Sampai sekarang kami masih silaturahmi dengan keluarganya, anaknya sekarang sudah bisa jalan, anaknya sehat, senang lihatnya,” kata Hartiasih sambil tersenyum.

Terbuang

Ketua Yayasan Gotong Royong, Cipto Sudarmo yang lama hanya menyimak cerita Hartiasih mulai angkat bicara. Sambil membenahi letak peci di kepalaya, dia berterus terang, betapa ringannya beban hati mereka pada anak-anak panti apabila semua kisah pencarian orang tua bayi berakhir seperti kisah Mawar. Saat ini terdapat 11 anak asuh di Panti Asuhan Gotong Royong, beberapa di antara mereka tak kunjung bertemu orang tua kandungnya. Proses adopsi pun masih terus diusahakan pengurus.

“Seringnya begini, kami sudah lacak alamat orang tua si bayi, setelah kami datangi, bilangnya memang mau segera ambil anaknya. Sempat mereka mengunjungi anaknya kemari beberapa kali, tetapi setelah itu mereka menghilang, dihubungi nomornya ternyata tidak aktif, dicari di kampusnya juga tidak ada. Ini beban hati kami juga ke anak-anak,” kata Cipto.

Cipto memandang ke luar pintu ruang pengasuh yang terbuka. Pandangan matanya mengarah ke dinding lorong panti asuhan, di sana terpajang beberapa foto anak asuh yang kini tengah duduk di bangku sekolah dasar. Anak-anak dalam foto itu telah tinggal di panti asuhan sejak bayi berusia hitungan hari saja.

Beberapa anak dititipkan oleh orang tua mereka karena masalah ekonomi dan status sosial. Beberapa lainnya ditemukan orang di tempat yang sama sekali tidak layak, contohnya di tempat sampah.

Benak Cipto masih merekam jelas kejadian yang menggetarkan hatinya pada Januari 2017 silam, bakda Subuh. Saat itu satpam panti asuhan yang baru saja pulang dari masjid tergopoh-gopoh menghampirinya sambil membawa keranjang plastik. Disibaknya kain penutup keranjang plastik itu dan dia melihat bayi perempuan yang masih merah di dalamnya. Bayi itu sedang tidur. Satpam panti menemukan keranjang plastik terbuka di dalam tempat sampah panti asuhan. “Kami langsung lapor ke Polsek. Tetapi tiga bulan kami mencari orang tuanya, tidak ketemu juga. Alhamdulillah, sudah ada orang yang datang mengadopsinya,” kata Cipto.

Mata Cipto berkaca-kaca saat mengakhiri ceritanya. Tak lama kemudian wanita paruh baya berkerudung biru memasuki ruangan pengasuh. Tri Suwarti yang sehari-hari menjadi sekretaris panti asuhan itu menanggapi cerita Cipto. Beberapa anak asuh telah mengetahui orang tua kandung mereka, interaksi pun terus dilakukan dengan kunjungan orang tua ke panti asuhan. Namun tak semudah itu mengembalikan mereka ke pelukan orang tua mereka.

“Seringnya mereka dianggap bagian dari masa lalu yang ditutupi dari pasangan baru ibunya. Si ibu punya anak ketika belum menikah dengan pasangannya yang sekarang. Itu butuh waktu untuk meyakinkan pasangannya agar menerima si anak, begitu juga dengan keluarga besar pasangannya,” kata Tri.

Beban berat dirasakan dalam hati Tri ketika menanggapi pertanyaan anak-anak panti tentang keberadaan orang tua kandung mereka. Apa pun yang terjadi sebenarnya, para pengasuh dan pengurus pantang memadamkan harapan mereka bertemu dengan orang tua kandungnya. Beban hati Tri bertambah saat ada seorang anak yang dijemput orang tua kandungnya atau orang tua pengadopsinya.

Sebelum mengadopsi seorang anak, biasanya keluarga pengadopsi sudah mendekati si anak. Beberapa kali mereka berkunjung ke panti untuk memperkenalkan diri dan mempererat ikatan dengan anak akan diadopsi. Mata anak-anak lain pun menangkap pertanda bahwa akan ada temannya yang pergi dijemput orang tua barunya.

Hingga tibalah hari tersebut, pesta perpisahan digelar di ruang tamu panti asuhan. Seluruh anak panti hadir dengan riang gembira. Saat teman yang dijemput mulai meninggalkan panti bersama orang tuanya, satu per satu dari mereka mulai menangis. Tanpa harus bertanya, Tri sudah tahu apa yang ada dalam pikiran anak-anak. Satu per satu pengurus dan pengasuh mulai berpencar mendekati mereka dan membisikkan harapan-harapan di telinga mereka.

“Apa pun keadaannya kami harus tetap pupuk harapan mereka bertemu orang tuanya. Saat mereka menangis, kadang kami bisikkan di telinga mereka, ‘Kamu harus terus berdoa dalam salatmu agar dapat cepat ketemu orang tuamu’. Atau kami bilang, ‘Sabar nak, orang tuamu sedang menabung untuk njemput kamu dan membelikan semua inginmu’,” kata Tri.

Pengurus dan pengasuh panti juga meyakinkan anak-anak panti bahwa mereka berharga, terutama apabila anak diadopsi dalam usia yang masih balita. Tidak ada jalan lain selain memberi pengertian bahwa orang tuanya telah datang menjemputnya. Jujur soal asal-usul mereka dan siapa orang tua mereka sebenarnya akan tetap dilakukan ketika usia anak dan mentalnya dirasa cukup siap.

“Aturan dari Dinas Sosial memang mewajibkan mereka harus tahu siapa orang tua kandung mereka. Selama di sini pun, mereka juga kami ajarkan untuk tidak membenci orang tua kandung yang membuangnya. Mereka harus tetap hormat kepada orang tua mereka yang belum bisa menerima mereka karena banyak yang harus dihadapi,” kata Tri.