FEATURE: Pengacak Frekuensi Penerbangan dari Kandang Sapi

Distiawan Dwi Rumboko, Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Jogja. - Harian Jogja/Sunartono
23 September 2018 18:25 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kepala Balai Monitor (Balmon) Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Jogja Distiawan Dwi Rumboko memiliki sejumlah pengalaman unik selama puluhan tahun melacak pengguna frekuensi ilegal. Salah satunya, bocah di pelosok Gunungkidul mampu menerobos frekuensi penerbangan dengan alat sederhana. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Sunartono.

Medio 2004, Distiawan Dwi beberapa kali mendapatkan keluhan dari sejumlah pilot yang mengudara di langit DIY. Musababnya, komunikasi antara Air Traffic Controller (ATC) Bandara  Adisutjipto dan pilot tidak berjalan lancar pada jam tertentu.

Di tengah-tengah percakapan di radio antar pelaksana penerbangan, tiba-tiba muncul suara anak-anak yang saling bertanya soal PR di sekolah. Gangguan itu tidak hanya terjadi sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Ihwal yang cukup membuatnya pusing karena suara permintaan mendarat dari pilot ke ATC justru kalah dengan celotehan anak.

“Saya mendengar sendiri, ketika komunikasi pilot dan ATC sedang serius-seriusnya berjalan, tiba-tiba di frekuensi itu ada suara anak kecil dengan bunyi misalnya, nomer siji jawabmu apa [nomor satu jawabanmu apa]?” ucap Distiawan belum lama ini.

Saat itu Distiawan menjabat Kepala Seksi Operasi Pemeliharaan dan Perbaikan (OPP) di Balmon Jogja. Dia kemudian melacak sumber suara ganjil tersebut.

Sebuah minibus keluaran tahun 80-an berwarna biru yang saat ini masih diparkir di Kantor Balmon Sektrum Frekuensi Radio Kelas I Jogja menjadi andalan pencarian karena dilengkapi alat pendeteksi frekuensi. Piranti pelacak yang dinamai direction finder ada di dalamnya, meski tak secanggih era saat ini. Selama tiga hari ia mencari titik pengguna frekuensi itu, tetapi tidak membuahkan hasil. Selama itu pula, suara anak-anak di frekuensi itu tetap saja terdengar ketika waktu di luar jam sekolah.

Pada hari keempat pencarian, ia bersama timnya masuk perbatasan wilayah DIY dan Jawa Tengah yang masih di kawasan Gunungkidul. Dari Pasar Semin, Distiawan mengarah ke barat menuju Karangmojo. Di jalan yang kanan kirinya dipagari pepohonan besar, sinyal yang dipantau makin menguat.

Timnya pun mengurangi laju minibus sebelum memutuskan untuk berhenti. Lantaran arah titik sinyal yang dicari tidak memungkinkan dijangkau dengan kendaraan, ia berjalan kaki melewati semak belukar. Setelah menerobos semak-semak, ia yakin pengacak frekuensi segera tertangkap. Namun dia kaget karena sumber frekuensi itu justru berasal dari kandang sapi.

“Serius lo ini. Sinyal paling kuat di kandang sapi,” ucap dia.

Usut punya usut, di balik kandang sapi ada sebuah kamar di dalam rumah yang digunakan beberapa anak. Nah, anak-anak tersebut yang memakai alat komunikasi berbahan adaptor sederhana yang dikaitkan dengan daya listrik. Orang tua mereka pun sama sekali tidak menyadari ada aktivitas penggunaan frekuensi di dalam kamar itu. Distiawan merasa kaget dengan kemampuan anak-anak tersebut merangkai alat komunikasi dengan bahan sederhana tetapi bisa membobol frekuensi penerbangan.

Mereka bersama teman-temannya menggunakan alat itu untuk saling bertanya tentang PR dari gurunya. Maklum saat itu ponsel belum mengecambah hingga perdesaan.

“Masyaallah, mereka itu cuma pakai adaptor-adaptoran yang kotak kecil itu, colokke listrik langsung mancar. Saya sampai merinding, karena waktu kecil saya belum bisa membuat karya sehebat itu.”

Keesokan harinya, anak-anak itu dibawa ke Kantor Balmon Jogja. Mereka masih duduk di bangku kelas V dan VI SD. Zaman  itu belum ada gadget, anak-anak tersebut belajar dengan melihat orang dewasa yang membuat alat komunikasi.

“Mereka murni utak-atik sendiri, mau buat interkom katanya mahal, pakai adaptor, begitu dapat frekuensi kosong langsung dipakai dan itu milik penerbangan,” katanya.

Sayangnya, ketika itu tidak ada pihak yang bisa mengembangkan kemampuan anak-anak dan Distiawan tak lagi mengetahui keberadaan mereka.

“Itu pengalaman saya paling unik selama melacak frekuensi puluhan tahun,” kata dia.

Distiawan kemudian dimutasi ke daerah lain yang tidak dia sebutkan secara rinci. Di daeerah tersebut, dia mendapatkan laporan adanya pengguna frekuensi tak berizin yang mengganggu pemakai frekuensi legal. Ia melacak dan langsung bisa menemukan penggunanya. Para pengguna ilegal itu secara terang-terangan membuat radio untuk menyiarkan pesan di komunitasnya. Mereka malah melawan dan mengajak berkelahi.

“Saat ditanya baik-baik, mereka ini malah menjawab, frekuensi ini milik Tuhan ngapain ikut ngatur-ngatur,” ujar dia.

Komunitas pengguna frekuensi ilegal tersebut ternyata kelompok radikal.