Ini Plus Minus Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

Warga mengenakan topeng pasangan Capres Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/8/2018). Aksi tersebut sebagai bentuk suka cita dan dukungan masyarakat kepada kedua pasangan yang maju pada Pilpres 2019 serta berharap pilihan Presiden 2019 berjalan dengan aman dan damai. - ANTARA/Mohammad Ayudha
12 Agustus 2018 07:50 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Cawapres Sandiaga Uno dan Ma'ruf amin dinilai memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno secara mengejutkan dipilih oleh Jokowi dan Prabowo untuk menjadi pendamping pada Pilpres 2019.

Pengamat menilai ada sejumlah hal yang sangat mempengaruhi minat rakyat untuk memilih.

"Ada plus minus yang harus diperhatikan karena akan mempengaruhi peraihan suara," kata pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU)  Warjio di Medan, Sabtu (11/8/2018).

Menurut dia, keberadaan KH Ma'ruf Amin akan memberikan keuntungan bagi Joko Widodo karena dapat menimbulkan simpati dari umat Islam.

Apalagi KH Ma'ruf Amin merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan organisasi berhimpunnya ulama dan pemuka agama Islam.

Namun, keberadaan KH Ma'ruf Amin juga dinilai sebagai anomali karena dikhawatirkan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pendukung fanatik Joko Widodo.

Selain itu, dengan keberadaan KH Ma'ruf Amin yang telah berusia lanjut juga kurang menarik bagi kalangan muda dan pemilih pemula yang jumlahnya sangat banyak.

"Dikhawatirkan, kalangan muda dan pemilih pemula kurang berkenan memilih mereka," ujarnya.

Sedangkan keberadaan Sandiaga Salahuddin Uno yang menjadi cawapres Prabowo Subianto diperkirakan akan mendapatkan sambutan positif dari kalangan muda dan pemilih pemula.

Keberadaan cawapres yang sudah menyatakan mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut, juga diperkirakan masih mendapatkan sambutan positif dari umat Islam.

Namun, kata dia, ada kerawanan lain berupa ketidakpuasan dari parpol pendukung lain karena Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno sama-sama dari Partai Gerindra.

Jika tidak dicermati dengan bijaksana, dikhawatirkan masalah tersebut bisa merusak kesolidan koalisi dan mengganggu kinerja mesin politik dari parpol pendukung.

Apalagi jika Wakli Gubernur DKI Jakarta yang akan menggantikan Sandiaga Salahuddin Uno nantinya juga berasal dari Partai Gerindra.

"Jadi, memang ada plus minus yang harus disikapi keduanya dalam kampanye nanti," tutur Warjio.

Sumber : Antara