FKY Malah Jadi Festival Kuliner Yogyakarta

Ketua Umum FKY 30 Robby Setiawan mengucap syukur pra pelaksanaan FKY 30 dengan potong tumpeng di Pyramid Bantul, Jumat (20/7/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
10 Agustus 2018 16:45 WIB Ujang Hasanudin News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Fetival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-30 yang berlangsung selama 17 hari ditutup, Kamis (9/8) malam di Planet Pyramid, Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul. Kegiatan seni dan budaya tahunan itu dari tahun ke tahun kian meriah. Stan kuliner menyumbang pendapatan besar, dua kali lipat daripada stan produk kreatif. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Ujang Hasanudin.

Ishari Sahida sempat gamang saat FKY-30 dibuka. Pada hari pertama, festival hanya mampu menarik 2.600-an pengunjung. Padahal setiap pembukaan FKY biasanya mampu menyedot lebih dari 5.000-an orang. Bahkan, pada pembukaan FKY 2013 di Pasar Ngasem Jogja, 5.000 orang datang, melebihi kapasitas lokasi penyelenggaraan yang seharusnya paling banyak menampung 3.000-an orang.

Perlahan, pengunjung FKY terus meningkat. Pria yang akrab disapa Ari Wulu yang rutin menjadi panitia FKY sejak 2013 lalu ini mengatakan awal pembukaan FKY tahun ini memang sempat sepi karena digelar bukan di hari libur. Selain itu ia menduga pengunjung capek harus bolak-balik menonton karnaval di Jalan Malioboro pada sore hari kemudian harus ke Bantul malam harinya.

Namun hari kedua dan seterusnya jumlah pengunjung terus meningkat hingga 9000-an. “Tingkat keberhasilan FKY tahun ini bisa dibilang 150 persen dibandingkan dengan tahun lalu baik dari sisi pengunjung maupun omzet,” kata Ari Wulu.

Berdasarkan catatan panitia, jumlah kunjungan selama 17 hari, dari 23 Juli sampai 8 Agustus 2018, FKY-30 didatangi 160.472 orang, sehingga rata-rata jumlah kunjungan harian sekitar 9.440 orang per hari.

Total pendapatan 100 stan produk kreatif mencapai Rp875,3 juta, dengan rata-rata omzet harian Rp51,4 juta. Sementara, 73 stan kuliner yang dikelola Pyramid menghasilkan sekitar Rp1,8 miliar, dengan rata-rata omzet harian Rp107,7 juta.

Ketua Umum FKY-30 Robby Setiawan mengatakan festival ini punya dampak ekonomi yang tak kecil bagi masyarakat di sekitar venue. Ada empat kantong parkir yang dikelola tiap dusun, seperti parkir Akademi Komunitas, Druwo, Pandes, dan Resto Firdaus selama 17 hari. Area parkir bisa mendatangkan uang Rp133,9 juta.

Di FKY tahun ini terdapat 20 program yang tersebar di DIY. Ada 1.880 pelaku seni tradisi, 73 perupa dari seluruh kabupaten dan kota, 28 seniman sastra dan teater, 35 sineas, serta 2.160 pelaku seni pertunjukan yang terlibat. “Jika ditotal, ada 4.176 orang dalam dalam tiap kelompok yang tampil,” kata dia.

Tahun ini, menutut Robby, FKY telah melahirkan sebuah festival yaitu Jogjakarta Video Mapping Festival (JVMF) yang digelar selama tiga hari pada 2-4 Agustus di sepanjang Malioboro. JVMF FKY-300 melibatkan seniman video mapping dari Jogja, Surabaya, Malang, Bandung dan Jakarta. Tahun depan JVMF dirancang menjadi festival mandiri dan kemudian menjadi salah satu festival tahunan di Jogja.

Dalam waktu tiga tahun terakhir FKY telah berhasil menampilkan kelompok seni Inggris, Prancis, Jepang, Amerika. “Beberapa kelompok seni dari negara lain sebenarnya ingin bergabung, tetapi terkendala perizinan. Sama seperti delegasi dari provinsi lain, kelompok seni dari negara sahabat tersebut membiayai proyeknya sendiri untuk bisa tampil di FKY,” ucap Robby.

Kepala Bidang Adat, Seni, dan Tradisi, Dinas Kebudayaan DIY Setiawan Sahri mengapresiasi keberhasilan penyelenggaraan FKY-30 yang dapat menyedot pengunjung hingga 160.000 lebih pengunjung.

“Kendati demikian, evaluasi perlu dilakukan agar ke depannya penonton dan partisipasi masyarakat lebih banyak lagi,” kata dia.