Wisatawan Domestik Masih Fokus Utama DIY

Pengunjung objek wisata Kalibiru Lantai Dua yang berfoto di atas spot foto berbentuk bintang, Senin (18/6/2018). - Harian Jogja/Beny Prasetya
09 Agustus 2018 11:25 WIB Tim Harian Jogja News Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaku wisata di DIY belum banyak menawarkan pengalaman untuk memperlama durasi tinggal wisatawan dan menambah belanja mereka. Fokus utama mereka masih wisatawan domestik.

Objek wisata Puncak Becici di kawasan Mangunan, Dlingo, Bantul, sudah menyiapkan beberapa paket selain panorama alam, seperti jelajah alam, jelajah wisata dengan jip, jelajah religi, outbound, kamping, dan wahana edukasi.

Pengelola Puncak Becici juga mulai merintis homestay di permukiman. “Sudah ada 20 kamar yang tersebar di beberapa rumah warga,” kata Koordinator Pengelola Puncak Becici, Gandi Saputra, Rabu (8/8).

Namun, layanan homestay yang disediakan mulai awal tahun ini itu belum memenuhi standar. Dari 20 kamar yang berada di 13 rumah, baru lima kamar yang sudah menggunakan toilet jongkok. Fasilitas air hangat pun belum semua tersedia.

“Kami terus berupaya melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pelayanan agar wisatawan nyaman,” ujar Gandi.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Gua Cemara, Bantul, sudah menyiapkan banyak paket wisata, mulai dari outbound, paket konservasi pohon cemara, paket pelepasan tukik atau anak penyu, susur pantai, hingga paket belajar bertani lahan pasir.

Juru Bicara Pokdarwis Gua Cemara Wahadi mengatakan paket-paket wisata itu sudah ada sejak pertengahan tahun lalu dan terus dilengkapi. Sayangnya, toilet di kawasan pantai ini diakuinya belum standar. Semuanya masih toilet jongkok.

Ketua Pokdarwis Laguna Depok Suyanto mengatakan pasar kuliner didirikan untuk menggaet pengunjung. Pasar yang menjajakan makanan khas warga setempat tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Generasi Pesona Indonesia (Genpi). Dalam waktu dekat pasar kuliner yang buka tiap sore itu akan diresmikan oleh Dinas Pariwisata DIY pada 18 September mendatang.

“Dua homestay juga sudah disiapkan dengan berbagai fasilitas yang akan diresmikan dalam waktu dekat,” kata Suyanto.

Laguna Depok salah satu objek wisata di Bantul yang gencar dipromosikan oleh Genpi melalui berbagai media sosial. Laguna di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek tersebut sangat cocok wisatawan generasi milenial, dengan daya jual sunset dan wisata kapal di muara Sungai Opak.

Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul juga menjaring wisatawan milenial dengan menggandeng komunitas Genpi. Sekretaris Dinpar Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan tiga destinasi yang terus dipromosikan adalah ekowisata Pampang, Ngingrong, dan Jonge. Pasar tradisional didirikan di tiga lokasi itu sebagai tambahan daya tarik. Namun, belum ada atraksi yang bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan.

“Jika ingin lama tinggal wisatawan lebih lama perlu ada hiburan malam yang menarik, dan saat ini belum ada. Selain itu akomodasi juga harus dipikirkan,” kata dia.

Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ekowisata Pampang Paliyan mengatakan pasar tradisional diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan milenial.

Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat Sleman Dardiri mengatakan wisatawan muda merupakan segmen utama. Fasilitas seperti tempat-tempat menarik untuk berfoto menjadi perhatian utama

“Kami selalu meminta pada operator jip ataupun sopir untuk melayani para wisatawan untuk berfoto. Kami juga sudah memberikan panduan lokasi-lokasi mana saja yang bagus dan aman untuk berfoto,” kata dia.

Saat ini, pengelola lava tour sedang menyiapkan jalur baru yang memiliki pemandangan baru agar wisatawan tidak bosan.

Desa Wisata Nglinggo, Desa Wisata Terbaik Se-DIY di 2018, menawarkan pengalaman yang lebih tradisional untuk mengikat wisatawan.

“Kami bersama Generasi Pesona Indonesia ingin membuat pasar digital, di dalamnya disajikan transaksi makanan dengan metode pembayaran menggunakan daun atau barang lainnya yang disepakati,” kata Ketua Pengelola Desa Wisata Nglinggo, Desa Pagerharjo, Teguh Kumoro.

Nglinggo juga bakal mengemas upacara adat pada Oktober nanti sebagai sajian wisata, ditambah pengambilan gambar kesenian tradisional.

“Atraksi ini yang menyasar wisatawan luar negeri. Sampai sekarang, kebanyakan wisatawan dari dalam negeri. Mereka ingin menikmati pemandangan alam dari Puncak Menoreh dan berfoto di kebun teh.”

Wisatawan Mancanegara

Adapun Dinas Pariwisata DIY akan memperbanyak kegiatan berskala nasional maupun internasional untuk mengincar wisatawan Eropa. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanandi mengatakan dari sepuluh besar negara dengan kunjungan wisatawan mancanegara terbanyak di DIY, 30% berasal dari Eropa.

Dinas Pariwisata menargetkan angka kunjungan pelancong tahun ini sebanyak 3,7 juta, dengan 480.000 turus asing. Tahun ini tingkat kunjungan diprediksi naik 10-15% daripada tahun lalu. “Bulan lalu, jumlah wisatawan turun saat Piala Dunia 2018 dan erupsi Merapi. Nah Juli-Agustus ini waktu yang tepat bisa menggaet wisatawan,” kata dia.

Dia mengatakan pertunjukan seperti Malioboro Night Festival, Festival Batik Internasional, dan event besar lainnya akan diteruskan. Namun, Dinas Pariwisata belum punya proyek khusus untuk membenahi fasilitas di berbagai objek wisata agar sesuai standar internasional sekaligus menarik lebih banyak uang dari wisatawan.

Bank Indonesia justru menilai wisata candi sebagai magnet yang bisa dikembangkan.

“Kenapa wisata candi? Karena Candi Borobudur oleh Kementerian Pariwisata akan dijadikan sebagai salah satu ikon Bali Baru. Kami juga melihat DIY banyak dikelilingi oleh candi,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, Budi Hanoto, Rabu (8/8).

Bank Indonesia telah memetakan potensi dan persoalan wisata candi yang dapat dijadikan acuan untuk pengembangan kawasan bersejarah itu sebagai daya tarik turis mancanegara.

Budi mengatakan Borobudur akan dikembangkan sebagai destinasi utama berstandar internasional. Angka kunjungan wisatawan mancanegara pada 2016 lalu yang mencapai 227.337 masih bisa ditambah lagi. Pemerintah menargetkan dua juta wisatawan mancanegara pada 2019 nanti, sehingga devisa yang dapat ditarik ditargetkan dapat mencapai US$2 miliar.

“Di DIY, pariwisata harus lebih berbasis budaya karena banyak unsur nilai-nilai peradaban kuno seperti candi.”

Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM Destha Titi Raharja mengatakan pemerintah atau pengelola wisata memiliki data psikografi atau gambaran psikologis calon wisatawan yang akan datang ke Jogja. Dari kacamata wisatawan mancanegara, menurut dia, Jogja belum menjadi tujuan utama, melainkan tujuan kedua setelah Bali atau Bromo. Oleh karena itu harus ada upaya dari pemerintah dan pengelola objek wisata untuk menciptakan atraksi yang cocok dengan selera turis asing. “Beragam atraksi yang bisa dipentaskan secara terbuka dan harus dikemas menarik pada momentum tertentu, sehingga menjadi alternatif bagi biro travel untuk membawa tamunya ke tempat pertunjukan itu,” kata dia.

Selain itu, pemandu wisata sebaiknya tidak hanya menawarkan objek wisata yang konvensional, tetapi memberikan warna baru yang belum diketahui oleh konsumen.

“Perilaku wisatawan asing dan domestik yang berbeda juga harus diperhatikan, tidak semua wisatawan asing suka shopping.”

Keamanan, kenyamanan, serta harga yang rasional harus diutamakan karena belum tentu wisatawan mancanegara selalu cocok dengan tempat wisata baru, berbeda dengan wisatawan domestik yang lebih suka mengincar tempat baru. “Di dalamnya termasuk perlu adanya kepastian asuransi,” kata Destha.

Tingkat belanja wisatawan di DIY belum terlalu tinggi. Berdasarkan analisis pengeluaran wisatawan oleh KPw BI DIY, wisatawan yang datang ke Jogja umumnya berbujet rendah. Tiga perempat pelancong di DIY berpenghasilan kurang dari Rp10 juta. Segmen wisatawan ini lebih banyak daripada dua tahun lalu. Pada 2016, hanya 60% wisatawan low budget dan tahun lalu meningkat menjadi 72%. Pengeluaran per hari wisatawan Nusantara sebesar Rp1,5 juta, sedangkan wisatawan mancanegara Rp1,9 juta. Sebagian besar pengeluaran dihabiskan untuk transportasi.

Ad Tokopedia