Bantuan Gempa Banjarnegara Capai Rp767,2 juta

Petugas gabungan bersama relawan membersihkan puing bangunan akibat gempa berkekuatan 4,4 SR di Desa Kertosari, Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (19/4). - ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
24 April 2018 08:00 WIB Yodie Hardiyan News Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA—Total bantuan untuk korban gempa bumi di Banjarnegara, Jawa Tengah mencapai Rp767,2 juta.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat menyatakan bantuan tersebut terdiri dari bantuan logistik tanggap darurat sebesar Rp667,23 juta, santunan ahli waris untuk dua orang masing-masing Rp15 juta, santunan korban luka-luka sebesar Rp70 juta untuk 35 orang.

Seperti diketahui bencana alam gempa bumi di Banjarnegara terjadi pada Rabu (18/4/2018) pukul 13.28 WIB. Gempa berkekuatan 4,4 skala ritcher dengan kedalaman 4 kilometer pada jarak 52 kilometer utara Kebumen.

Pusat gempa yang dangkal dengan kondisi tanah gembur mengakibatkan kerusakan cukup parah pada 4 Desa di wilayah Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Akibat peristiwa ini dua orang meninggal dunia atas nama Asep, 13, dan Nenek Kasri, 100, sedangkan 35 orang luka-luka.

Jumlah pengungsi hingga Senin (23/4) adalah 2.125 jiwa atau 711 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut terdapat 180 balita, 211 anak-anak, 214 lansia. Mereka tersebar di 13 desa tempat pengungsian.

Di antaranya Desa Kertosari sebanyak 546 jiwa, Desa Sidakangen sebanyak 470 jiwa, Desa Kasinoman sebanyak 440 jiwa, Kalibening 190 jiwa, dan Plorengan sebanyak 157 jiwa.

Gempa juga mengakibatkan 194 rumah rusak dengan rincian 86 rumah rusak ringan, 31 rumah rusak sedang, 77 rumah rusak berat. Sementara itu, total fasilitas yang rusak antara lain fasilitas umum 3 sekolah, 3 masjid dan 1 mushalla.

Harry menjelaskan ada tiga upaya penanganan bencana sesuai standar yang dilaksanakan Kementerian Sosial.

Pertama, tahap pra-bencana. Pada tahap ini, Kementerian Sosial membangun sistem penanggulangan bencana bidang perlindungan aosial, menyiapkan sarana dan prasana pendukung, mengembangkan kapasitas SDM Tagana dan relawan sosial, membentuk Kampung Siaga Bencana, membentuk Forum Keserasian Sosial dan Kearifan Lokal, Sosialisasi, simulasi, dan gladi lapangan.

Tahap kedua adalah pada saat bencana. Dalam tahap ini, Kementerian Sosial mengaktivasi sistem penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial, pengerahan SDM Tagana dan relawan sosial, pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dan pelayanan sosial lainnya, advokasi dan layanan dukungan psikososial.

"Di antaranya mendirikan Dapur Umum Lapangan, pemenuhan kebutuhan logistik pengungsi, dan layanan dukungan psikososial kepada korban terdampak bencana," tambahnya.

Tahap ketiga atau tahap pascabencana, adalah pemberian bantuan pemulihan (santunan sosial, jaminan hidup dan bantuan stimulan lainya), advokasi dan layanan dukungan psikososial, dan melaksanakan rujukan.

Sementara itu seorang anak di pengungsian bernama Nela, 13, berkukuh tetap bersekolah, terlebih lagi mulai Senin (23/4) mereka menghadapi ujian sekolah.

“Hanya saja kami belum berani kembali ke rumah mengambil buku-buku, seragam serta perlengkapan sekolah, karena takut gempa susulan," ujar Nela.

Seorang Guru SDN 02 Sidakangen, Ibu Alif, 56, yang rumahnya menjadi Posko Dapur Umum Tagana mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar khususnya bagi siswa kelas 6 yang akan menghadapi ujian tetap dilaksanakan di tenda-tenda darurat di sekitar lingkungan sekolah.

"Mereka tetap ujian, mereka terus bersemangat sekolah meskipun tanpa seragam," katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Adplus Tokopedia